ISLAM MEMULIAKAN WANITA

cadar

A.  Wanita Pada Masa Jahiliyah

Kedudukan wanita dalam pandangan umat-umat sebelum Islam sangat rendah dan hina. Mereka tidak menganggapnya sebagai manusia yang mempunyai ruh, bahkan mereka menganggap wanita adalah pangkal dari keburukan dan sumber bencana.[1]

Pada masa jahiliyah wanita juga dianggap sebagai musibah. Seorang suami sangat benci ketika mendengar istri melahirkan bayi perempuan. Karena kebenciannya kepada bayi perempuan, maka seorang ayah akan marah besar bila mendengar yang lahir dari istrinya adalah anak perempuan, wajahnya akan merah karena ia akan menanggung rasa malu disebabkan berita tersebut, sebagaimana yang Allah gambarkan tentang keadaan mereka didalam alqur’an:

 وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ  (58)  يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ  (59)

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.(QS.An-Nahl:58-59)[2]

Begitu kejamnya mereka mengubur bayi perempuan itu hidup-hidup. Sedangkan bayi-bayi itu tidak memiliki salah apa-apa. Sebagaimana Allah k berfirman:

 وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ  ،  بِأَيِّ ذَنْبٍ

“Apabila bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup ditanya,karena dosa apakah ia dibunuh” (Q.S.At-Takwir : 8-9)[3]

Pada masa jahiliyah wanita juga dianggap seperti barang atau budak. Sebagaimana firman Allah k:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai (mewarisi) wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut….”.(QS.An-Nisaa’:19)[4]

Al Bukhari berkata dari dari Ibnu Abbas berkenaan dengan ayat ini, ia berkata:”Dahulu jika seorang laki-laki meninggal dunia, maka para walinya lebih berhak dengan istrinya. Jika sebagian mereka mau, mereka dapat mengawininya atau dapat pula mengawinkannya atau tidak sama sekali. Mereka adalah orang yang paling berhak dengan istrinya itu dibandingkan keluarganya yang lain, maka turunlah ayat ini.”[5]

Perlakuan buruk lainnya adalah dahulu kaum jahiliyah apabila mereka memiliki budak-budak wanita, mereka mengirimnya untuk berzina dan mengharuskan budak-budak itu menyerahkan setoran yag mereka ambil setiap waktu, ketika islam datang Allah melarang kaum mukminin dari hal itu, dalam firman-Nya:

Ÿوَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”.(QS.An-Nuur:33)[6]

Demikian kondisi kaum wanita dimasa jahiliyah, keadaan mereka tidak lebih dari makhluk tanpa harga diri yang kehilangan hak dan kepemilikannya. Lebih dari itu Alquran juga mengisahkan tentang keburukan akhlak para wanita dijaman jahiliyah,wanita mereka suka berdandan degan pakaian laki-laki,sering memamerkan auratnya, dan banyak memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk  lainya, maka Allah perintahkan kaum muslimin supaya tidak mengikuti mereka, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu menetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yg terdahulu.” (QS.Al-Ahzab:33)[7]

B.  Wanita Pasca Islam

Islam adalah agama yang hak, yang Allah k turunkan kepada segenap manusia sebagai rahmatan lil’alamin, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya iman. Sebagaimana kita mengetahui betapa tidak manusiawinya sikap dan prilaku jahiliyah terhadap kaum wanita, sampai-sampai mereka menganggap para wanita bagaikan budak atau barang dagangan, mereka mengubur anak-anak wanita hidup-hidup tanpa memenuhi jerit dan tangis mereka, mereka pula memerintahkan budak-budak wanitanya untuk melacur agar mereka medapat keuntungan dari pelacuran tersebut, setelah Islam datang semua prilaku jahiliyah telah dihapuskan, Islam juga datang untuk menjunjung tinggi martabat kaum wanita yang dahulu kehormatan mereka di hinakan, maka tidak ada agama dimuka bumi ini yang sangat memperhatikan dan mengangkat martabat wanita kecuali Islam, sampai-sampai Rasulullah ` bersabda:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا وخياركم خياركم لنسائهم

“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap terhadap istri-istrinya”[8]

خيركم خيركم لأهله . وأنا خيركم لأهلي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku”[9]

Islam mengharamkan membunuh anak perempuan dalam keadaan hidup-hidup yang mana orang jahiliyah dulu lakukan pada anak-anak mereka, dan islam juga sangat menjunjung tinggi hak-hak mereka terutama para ibu, sebagaimana hal ini disabdakan oleh Rasulullah `:

إنّ الله حرّم عليكم عقوق الأمّهات ووأدُ البنات

“Sesungguhnya Allah mengharamkan padamu durhaka pada ibu-ibumu dan mengubur hidup-hidup anak perempuan-perempuanmu”[10]

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Basam dalam mensyarah hadits diatas, beliau membawakan firman Allah k:

 وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا.

 “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”.(Qs.Al-Isra’:31)[11]

Selain menjamin hak-hak wanita, Islam juga menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Di antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah k memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)[12]

Wanita diperintahkan untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33)[13]

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, Sekaligus menjamin kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita yang terlalu bebas. Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah k. Dan juga kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah k atas kaum wanita.

C.  Wanita Adalah Karunia Bukan Musibah

Setelah sebelumnya orang-orang jahiliyah memandang wanita sebagai musibah, Islam memandang bahwa wanita adalah karunia Allah k. Kaum laki-laki akan mendapatkan cinta, kasih saying, motivasi hidup dan ketenangan, lahir maupun batinnya. Wanita membantu Laki-laki dalam mewujudkan hidup yang nyaman dan penuh kebahagian, mendidik dan membimbing anak-anak mereka agar menjadi anak yang shaleh. Allah k berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Rûm: 21)[14]

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.” (QS. An Nahl:72)[15]

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al Baqarah: 187)[16]

D.  Kedudukan dan Martabat Wanita dalam Islam

Di muka bumi ini tidak ada agama yang sangat memperhatikan wanita dan mengangkat martabat kaum wanita selain Islam. Islam memuliakan wanita dari sejak Ia dilahirkan hingga ia meninggal dunia. Islam benar-benar mengangkat dan memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah dilakukan oleh agama lain. Wanita dalam Islam merupakan saudara kembar laki-laki, Rasulullah ` berpesan untuk berbuat baik kepada wanita dalam sbdanya: “sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya.”

Wanita muslimah pada masa bayinya mempunyai hak disusui, mendapatkan perhatian dan sebaik-baik pendidikan dan pada waktu yang sama ia merupakan curahan kebahagiaan dan buah hati kedua ibu dan bapaknya serta saudara laki-lakinya. Apabila wanita memasuki usia remaja, ia dimuliakan dan dihormati. Walinya cemburu karenanya, ia meliputinya dengan penuh perhatian, maka ia tidak rela kalau ada tangan jahil menyentuhnya, atau rayuan-rayuan lidah busuk atau lirikan mata (pria)mengganggunya. Apabila ia menikah, maka hal itu dilaksanakan dengan kalimatullah dan perjanjian yang kokoh. Maka ia tinggal dirumah suami sebagai pendamping setia dan kehormatan yang terpelihara. Suami berkewajiban  menghargai dan berbuat baik (ihsan) kepadanya dan tidak menyaikiti fisik mauoun perasaanya. Apabila ia telah menjadi seorang ibu, maka ia (perintah) berbakti kepadanya dinyatakan berbarengan dengan hak Allah, kedurhakaan dan perlakuan buruk terhadapnya selalu diungkapkan berbarengan sengan kesyirikan kepada Allah dan perbuatan kerusakan dimuka bumi. Apabila ia sebagai saudara perempuan, maka dia adalah yang diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturrahim, dimuliakan, dan dilindungi. Apabila ia sebagai bibi, maka kedudukanya sedrajat dengan ibu kandung didalam mendapatkan perlakuan baik silaturrahim. Apabila Ia sebagai nenek atau lanjut usianya, maka kedudukan dan nilainya bertambah tinggi dimata anak-anak, cucu-cucunya dan seluruh kerabat dekatnya. Maka permintaannya hampir tidak pernah ditolak dan pendapatnya tidak diremehkan. Apabila ia jauh dari orang lain, jauh dari kerabat atau pendampingnya maka dia memiliki hak-hak islam yang umum, seperti menahan diri dari perbuatan buruk terhadapnya, menahan pandangan mata darinya dan lain-lain. [17]

Masyarakat islam masih tetap memelihara hak-hak tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga wanita benar-benar memiliki nilai dan kedudukan yang tidak akan ditemukan di dalam masyarakat non muslim.

E.  Hak-Hak Wanita Dalam Islam

Islam tidak membedakan hak atas laki-laki dan perempuan yaitu bahwa nilai-nlai fundamental yang mendasar, ajaran Islam seperti perdamaian pembebasan egaliterianisme termasuk persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan banyak tercermin dalam ayat Al-Quran, kisah-kisah tentang peranan perempuan di zaman Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam seperti: Khadijah, Aisyah dan lainya telah banyak ditulis. Begitu pula sikap beliau yang menghormati kaum perempuan dan memperlakukannya sebagai mitra dalam perjuangan.[18] Allah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan dari pada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs.al-Baqarah : 228)[19]

            Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa hak wanita itu seimbang dengan hak laki-laki, akan tetapi laki-laki mempunyai satu tingkatan lebih dari wanita. Kenapa? Karena seorang laki-laki mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarga sedangkan wanita tidak. Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya selama masih dalam masa ‘iddahnya dan nafkah untuk mengurus anak-anaknya. Barang siapa yang hidupnya pas-pasan, dia wajib memberi nafkah menurut kemampuannya. Allah k berfirman:

÷,لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”(Qs. Ath-Thalaq : 7)[20]

Memberikan nafkah kepada istri hukumnya adalah wajib. sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain.[21]

Sebenarnya di dalam Islam terdapat berbagai macam hak asasi perempuan yang dilihat dari berbagai dimensi, sehingga penyusun berusaha mengklarifisikan hak-hak tersebut dengan membagi kepada 3 aspek yang kemudian terbagi kepada beberapa bagian yaitu:

1. Hak Perempuan Dalam Agama

Ajaran Islam mengandung beberapa aspek diantaranya aqidah dan ibadah, yang mana seorang peremuan berhak melaksanakannya.

a. Hak dalam aqidah

Aqidah adalah sesuatu keyakinan yang bisa ada pada setiap orang. Dan keyakinan dalam agama Islam menjadi inti agama, ini berarti sahnya agama tanpa keyakinan atau kepercayaan adalah bukan agama. Islam telah memberikan kebebasan berfikir kepada kaum perempuan untuk meyakini ajaran Islam dan tidak memaksa perempuan non muslim untuk memeluk agama Islam. Akan tetapi perlu diketahui bahwa Islam melarang muslimah untuk menikahi lelaki kafir, sebagaimana firman Allah:

 وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”(QS. Al-Baqarah: 221)[22]

Ayat di atas menjelaskan bahwa larangan tersebut bukan karena pelanggaran hak asasi perempuan, akan tetapi justru dikhawatirkan wanita Islam itu kehilangan kebebasan beragama dan menjalankan ajaran-ajaran agamanya yang kemudian terseret agama suaminnya.demikian anak-anaka yang lahirdari hasil perkawinannya, dikhawatirkan pula mereka akan mengikuti aagama bapaknya. Karena bapak sebagai kepala keluarga dan anak lebih takut kepadanya dari pada kepada ibunya.[23]

b. Hak dalam Ibadah

Dalam hak beribadah, ajaran islam memberi hak istimewa bagi kaum perempuan. Ibadah adalah segala sesuatu perbuatan manusia yang berhubungan dengan Tuhan. Seperti sholat, puasa, zakat dan lainnya. Sehingga kaum perempuan diberi kebebasan untuk beribadah. Salah satunya adalah sholat berjamaah di masjid, tetapi tidak dibenarkan seorang perempuan untuk sholat di masjid apabila menjadikannya beban yang sebenarnya lebih banyak mudharatnya dari pada pahalanya, karena sholat di rumah itu lebih afdhal dibanding ketika ia keluar rumah.

2. Hak Dalam Aspek Sosial Kemasyarakatan

Dalam masalah ini seorang perempuan sangat membutuhkan karena menyangkut masa depan diri dan keluarga, sehingga diapun berhak menentukan bidangnya sendiri.

a. Hak dalam bidang pengajaran

Kaum perempuan juga berhak untuk mencari illmu dan menambah wawasannya dan tidak ada larangan baginya baik dalam konteks keagamaan maupun keduniaan.[24] Nabi ` bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan)”[25]

Hadits diatas menganjurkan bagi siapa saja baik itu laki-laki atau perempuan untuk belajar dan memperdalam ilmunya.

b. Hak dalam bidang kebebasan bekerja

Kebebasan bekerja bagi kaum perempuan harus dilakukan apabila tidak menimbulkan bencana pada diri, keluarga dan orang lain. Kembali pada prinsip pertama yang telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwa tidak ada perbedaan hak mendapat pekerjaan bagi laki-laki dan perempuan tanpa terikat satu tempat baik di rumah maupun diluar rumah. Hanya saja prosesnya tentu berbeda menyesuikan status dan kemampuannya.[26] Seperti guru, karena hal ini bisa didapatkan pada era modern, dimana perempuan berprofesi sebagai guru yang akan mendidik anak muridnya.

3. Hak Dalam Aspek Hukum

Sejak beberapa abad yang lalu di negri Barat, seorang perempuan yang sudah menikah tidak diperkenankan memiliki harta miliknya sendiri, bahkan menggunakan hartanya dalam rangka akad tidak diperbolehkan oleh suaminya seperti yang terjadi di Prancis dalam perundang–undangannya tidak memberikan hak seorang wanita dalam harta. Sedangkan Islam hak bagi setiap perempuan untuk melakukan akad seperti membeli, menjual, melakukan kontrak dan mendapatkan penghasilan serta mengelolah uang harta miliknya sendiri. Begitu pula hak dalam mahar yang di berikan oleh suaminya, yang tidak boleh diganggu oleh orang tua bahkan suaminya sediri. Kecuali telah diizinkan oleh istrinya. Islam juga sangat memperhatikan mengenai masalah hukum secara umum maupu khusus, seperti dalam peradilan, seorang perempuan dianggap mempunyai hak dalam menuntut balik terhadap pelanggaran seseorang yang menuduhnya melakukan tindakkan kriminal.

Dengan demikain hampir semua bentuk-bentuk hak asasi perempuan dari berbagai dimensi yang menurut kaca mata Islam dapat dilindungi oleh hukum Islam, namun demikian seorang perempuan tidak boleh melupakan identitas dan tanggung jawabnya baik sebagai anak, istri, ibu maupun figur dalam mayarakat.

  1. F.   Perspektif Barat Terhadap Islam Tentang Wanita

Sudah menjadi sunatullah bahwasanya orang-orang kafir tidak akan pernah senang dengan Islam selama-selamanya. Allah k yang maha mengetahui telah mengabarkan kepada kita tentang begitu bencinya mereka terhadap Islam, dan berupaya agar umat Islam murtad dari agama mereka. Allah SWT berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS. Al-Baqarah: 120)[27]

Diantara bentuk permusuhan mereka terhadap Islam adalah dengan mendengungkan tuduhan-tuduhan jelek kepada Islam yang sama sekali tidak terbukti. Mereka mengatakan bahwa Islam sangat mengekang kaum wanita, wanita tidak mendapatkan keadilan dalam masalah warisan, wanitatidak bebas berkarya dan lain sebagainya dari tuduhan-tuduhan yang sekali lagi tidak terbukti, sehingga mereka ingin menampakkan diri mereka sebagai pahlawan dihadapan para wanita dengan seruan “Emansipasi”, yaitu persamaan hak antara laki-laki dan wanita dalam segala bidang.

Kita tidak perlu membuang banyak tenaga kita untuk membantah tuduhan-tuduhan tersebut, cukuplah kita bawakan perkataan dari mereka yang awalnya menyerukan konsep ini akan tetapi telah insaf karena mendapatkan kesalahan dalam konsep tersebut. Mereka adalah:

Dafison, pegiat gerakan wanita internasional mengatakan, ‘Disana ada sebagian wanita yang merusak kehidupan rumah tangganya dengan mengikuti paham kesetaraan dengan laki-laki. Sesungguhnya suami adalah pemimpin yang harus diikuti. Seorang istri wajib hidup dengan suaminya di rumah dan melupakan semua pemikiran tentang kesetaraan.’

Hellin Andeline, pengamat kehidupan rumah tangga Amerika Serikat mengatakan, ‘Sesungguhnya konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan tidak rasional dan tidak aplikatif. Bahkan konsep itu membunuh wanita, keluarga, dan masyarakat.’

Rienah Mary, ketua gerakan wanita prancis mengatakan, ‘tuntutan kesetaraan yang sempurna antara laki-laki dan perempuan mengantarkan pada kehampaan, karena kedua belah pihak tidak mendapakan hak-haknya.[28]

G.    Kesimpulan

Kaum wanita pada zaman jahiliyah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk. Wanita dihinakan dan mereka tidak mendapatkan hak-haknya dengan baik. Islam datang dengan syari’atnya yang sempurna mengatur segala urusan manusia. Termasuk urusan wanita, Islam telah mengaturnya dengan baik. Pada hakikatnya syari’at Islam memuliakan wanita dan menjunjung martabat wanita ke tempat yang seharusnya. Islam juga menjamin hak-hak wanita. Maka sudah sudah seharusnya untuk setiap muslim khususnya wanita muslimah untuk senantiasa menjaga syari’at Islam yang mulia ini dengan baik. Meskipun dunia Barat selalu menggemborkan tentang masalah kesetaraan wanita dan laki-laki akan tetapi mereka mengakui bahwa sebenarnya kesetaraan itu tidak mungkin. Karena laki-laki dan wanita memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Allah k yang menciptakan manusia maha mengetahui yang terbaik bagi manusia. Maka sebagai manusia kita harus taat dan patuh terhadap syari’at yang telah Allah ktetapkan.

Daftar Pustaka

Fachruddin, Amin Hamzah, Wanita Karier dalam Timbangan Islam: Kodrat Kewanitaan, Emansipasi dan Pelecehan Seksual, cet. 1 (Jakarta: Pustaka  Azzam, 1998)

Abdullah bin Muhammad al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir , cet.1,  jilid 5,  penerjemah Abdul Goffar  (Bogor:  Pustaka Imam Syafi’i, 2001)

Isma’il ibn Katsir, Tafsir AlQuran Al‘Adhim, cet. 1, jilid 3(Riyadh: Dar ‘Alim Al-Kutub, 2004)

Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi, Jami’ At-Tirmidzi, cet. 1(Riyadh: Dar al-Islam, 1999)

Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari, cet. 2 (Riyadh: Dar al-Islam, 1999)

Abdullah bin Abdirrahman Al-Basam, Taudihul Ahkam Min Bulugil Maram, cet. 3 (Riyadh: Dar al-Maiman, 2009)

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, Keluarga Sakinah, cet 3 (Bogor: Pustaka At-Takwa 2007)

Zaini, Wahid, dkk, Memposisikan Kodrat: Perempuan dan perubahan dalam perspektif Islam, cet. 1 (Jakarta: Mizan, 1999)

Zuhdi, Masjfuk, Masailul Fiqhiyah: Kapiata Selekta Hukum Islam, cet.3 (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1992)

Derajat, Zakiah, Islam dan Peranan Wanita, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1978)

Muhammad ibnu Yazid Ibnu Majah, Sunan ibnu Majah, cet. 1(Riyadh: Dar al- Islam, 1999)

Alimin dan H. Fauzan Jamal, Etika Muslimah; Bimbingan Praktis dari serambi Rasulullah, cet. 1 (Jakarta: 2002)

Umar bin Abdullah al-Muqbil, 50 Kaidah Kehidupan Dalam Al-Qur’an, cet.1 (Jakarta: Dar as-Sunnah, 2012)


[1] Amin Hamzah Fachruddin, Wanita Karier dalam Timbangan Islam: Kodrat Kewanitaan, Emansipasi dan Pelecehan Seksual, cet. 1 (Jakarta: Pustaka  Azzam, 1998),1.

[2] Abdullah bin Muhammad Al Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir , cet.1,  jilid 5,  penerjemah Abdul Goffar  (Bogor:  Pustaka Imam Syafi’i, 2001), 73.

[3] Ibid., jilid 8, 407.

[4] Ibid., jilid 1, 258.

[5] Isma’il ibn Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Adhim, cet. 1, jilid 3(Riyadh: Daar  ‘Alim Al Kutub, 2004), 296

[6] Ibid, jilid 6, 52.

[7] Ibid, jilid 6, 476.

[8] Muhammad bin ‘Isa At Tirmidzi, Jami’ At Tirmidzi, cet. 1(Riyadh: Daarul Islam, 1999), 282.

[9] Ibid., 878.

[10] Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Shahih AL Bukhari, cet. 2 (Riyadh: Daarul Islam, 1999), 387.

[11] Abdullah bin Abdirrahman Al Basam, Taudihul Ahkam Min Bulugil Maram, cet. 3 (Riyadh: Darul-Maiman, 2009), 367-369.

[12] Abdullah bin Muhammad Al Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir , cet.1, jilid 6,  penerjemah Abdul Goffar  (Bogor:  Pustaka Imam Syafi’i, 2001), 536.

[13]Ibid., 476.

[14] Ibid., 363.

[15] Ibid., jilid 5, 84.

[16] Ibid., jilid 1, 339.

[17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Keluarga Sakinah, cet 3 (Bogor: Pustaka At-Takwa 2007), 270-272

[18] Wahid Zaini dkk, Memposisikan Kodrat: Perempuan dan perubahan dalam perspektif Islam, cet. 1 (Jakarta: Mizan, 1999), 1.

[19] Abdullah bin Muhammad Al Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir , cet.1,  jilid 1,  penerjemah Abdul Goffar  (Bogor:  Pustaka Imam Syafi’i, 2001), 446.

[20] Ibid., jilid 8, 218.

[21] Yazid, Keluarga Sakinah, cet.1(jawa barat: pustaka at-taqwa 2007)158.

[22] Abdullah bin Muhammad Al Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir , cet.1,  jilid 5,  penerjemah Abdul Goffar  (Bogor:  Pustaka Imam Syafi’i, 2001), 427.

[23]  Masjfuk Zuhdi, Masailul Fiqhiyah: Kapiata Selekta Hukum Islam, cet.3 (Jakarta: CV. Haji

Masagung, 1992), 6-7.

[24] Zakiah Derajat, Islam dan Peranan Wanita, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), 49.

[25] Muhammad ibnu Yazid ibnu Majah, Sunan ibnu Majah, cet. 1(Riyadh: Darul Islam,1999), 34.

[26] Alimin dan H. Fauzan Jamal, Etika Muslimah; Bimbingan Praktis dari serambi Rasulullah, cet. 1 (Jakarta: 2002), 20.

[27] Abdullah bin Muhammad Al Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir , cet.1, jilid 1,  penerjemah Abdul Goffar  (Bogor:  Pustaka Imam Syafi’i, 2001),  241.

[28] Umar bin Abdullah Al-Muqbil, 50 Kaidah Kehidupan Dalam Al-Qur’an, cet.1 (Jakarta: Dar as-Sunnah, 2012), 75

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: