Bahaya Bid’ah

Secara bahasa bid’ah artinya setiap perkara baru yang diadakan atau diciptakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu. Sebagaiman firman Allah Ta’ala:

 

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

          Allah Pencipta langit bumi (tanpa contoh).(QS Ql Baqarah: 117)

Adapun makna bid’ah secara istilah adalah sebuah tata cara dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at yang maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”[1]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata: Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap yang diadakan dari apa-apa yang tidak ada asalnya dalam syari’at yang menunjukan kepadanya, adapun bila ada asalnya (dalil) syari’at yang menunjukan kepadanya maka bukanlah bid’ah secara syari’at walaupun dianggap bid’ah secara bahasa.[2]

Bahaya Bid’ah

Rasulullah j telah memerintahkan kepada kita agar senantiasa berpegang teguh dengan sunnahnya dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin dan menjauhi bid’ah karena dapat mengantarkan pelakunya kedalam neraka sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits:

فَعَليكُمْ بِسُنَتِي وَسُنةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِين المَهْدِيِين تَمَسكُوْا بِهَا وَغَضُوا عَلَيهَا بِالنوَاجذِ وَإيَاكُم وَ مُحْدَثَات الأُمُور فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدعَةٌ وكُلَّ بِدعَةٍ ضَلَالَةٌ وكُل ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-rasyidin yang telah diberi hidayah, gigitlah dengan gigi geraham dan jauhilah oleh kalian perkara yang baru (dalam masalah agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya adalah di neraka. (HR. At Tirmidzi)[3]

Bid’ah juga dapat menyebabkan manusia keluar dari ketaatan kepada Rasulullah j karena Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS ‘Ali Imran: 31)[4]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini adalah sebagai hakim bagi orang yang mengaku mencintai Allah, sementara ia tidak di atas tata cara ( ibadah) Nabi Muhammad j dimana ia dusta dalam klaimnya tersebut sampai mengikuti syari’at NabiMuhammad j pada seluruh perkataan, perbuatan dan keadaan beliau, sebagaimana telah ada dalam kitab Ash Shahih Nabi bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيهِ أَمْرُنا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, tanpa didasari perintah dari kami maka ia tertolak. (HR Muslim)[5]

Bid’ah melenyapkan sunnah, karena berapa banyak sunnah yang hilang dan digantikan oleh bid’ah, seperti adzan awal subuh, shalawat, dan lain-lain. Berkata Hassan bin ‘Athiyyah, “Tidaklah suatu kaum bid’ah dalam agama mereka kecuali Allah akan mencabut sunnah yang semisal.” (HR Ad Darimi)[6]

Allah menghalangi ahli bid’ah untuk bertaubat selama dia tidak meninggalkan bid’ahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah j: “Sesungguhnya Allah mengahalangi taubat dari pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR At Thabrany dan dishahihkan oleh syeikh Al Bani)[7]

Pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah. Al Hasan Al Bashry rahimahullah berkata: Pelaku bid’ah tdaklah ia menambah ibadah (yang bid’ah) kecuali semakin jauh dari Allah.[8]

Pelaku bid’ah memposisikan dirinya pada kedudukan yang menyerupai pembuat syari’at, padahal yang berhak membuat syari’a hanyalah Allah saja. Sebagaimana firman-Nya:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mentapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan oleh Allah.(QS Asy Syura: 21)

          Bid’ah lebih disukai Iblis dari maksiat. Ibnul Ja’ad meriwayatkandalam musnadnya dari Sufyan Ats Tsauri berkata: “Bid’ah lebih disukai Iblis dari pada maksiat.” Karena jika engkau bertanya kepada pencuri misalnya, “Apakah engkau meyakini bahwa mencuri itu maksiat?” Ia akan menjawab “ya”. Sedangkan ahli bid’ah menganggap baik perbuatannya sehingga sulit diharapkan taubatnya.[9]


[1]  Ali Hassan bin ‘Abdul Hamid Al Halabi Al Atsary, Kupas Tuntas Akar-Akar Bid’ah, penerjemah Abu Hilya Normal Robbaniy (Jakarta: Pustaka Imam Adz Dzahabi, cet ke 1, 2007),  20

[2]  Abu Yahya Badrussalam, Keindahan Islam dan Perusaknya, (Bogor: Pustaka Al Bashirah, cet ke 1, 2009), 68

 

[3] Muhammad Jamil Zainu, Manhaj Al Firqoh An Najiah wa Thaifah Al Manshuurah (Mekkah: Dar ibnu Al Khathab, 2006),  9

[4]  Abu Yahya Badrussalam, Keindahan Islam dan Perusaknya, (Bogor: Pustaka Al Bashirah, cet ke 1, 2009), 59

[5]  Ibid, 59

[6]  Ibid, 61

[7]  Ibid, 62

[8]  Ibid, 63

[9]  Ibid, 64

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: