Ikhlas dan Ittiba’

Alhamdulillah segala puji syukur kita haturkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala atas segala nikmat yang dikaruniakan kepada kita semua, yang sungguh jika kita berusaha menghitung-hitung nikmat tersebut, maka kita tidak akan mampu untuk mrnghitungnya. Allah ta’ala berfirman:

” Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya”  (Qs Ibrahim: 34)

Dan diantara nikmat yang paling agung adalah nikmat islam, nikmat iman dan nikmat berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan ulama-ulama yang mengikuti langkah mererka. Mengapa harus dengan pemahaman salafus shalih?? karena banyak umat islam sekarang ini yang mereka berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah tetapi tidak dengan pemahaman salafus shalih, yang akhirnya mereka terjebak dalam kebid’ahan. Mereka melakukan ibadah-ibadah yang mereka anggap sunnah padahal itu adalah bid’ah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallalhau ‘alaihi wasallam tidak juga para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan ulama-ulama setelahnya yang mengikuti jejak mereka. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada contohnya dan perintahnya dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam maka ibadah itu tertolak. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya (tidak ada contohnya), maka ia tertolak” (HR. Bukhori dan Muslim)

dari hadits ini jelas bahwa ketika kita beribadah maka harus mengikuti ajaran yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘aliahi wasallam agar ibadah kita diterima. Tidak lupa bahwa kita juga harus mengikhlaskan ibadah kita hanya untuk Allah semata. Dan Ikhlas ini adalah syarat yang paling utama agar ibadah kita diterima, karena tidaklah Allah menciptakan manusia dan jin di muka bumi ini kecuali untuk beribadah kepadanya dengan Ikhlas tanpa mempersekutukannya dengan suatu apapun, sebagaiman Allah Ta’ala berfiman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ   

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.”(QS  Adz Dzariyat :56).

Jadi ketika kita beribadah maka harus mengikuti perintah Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ikhlas hanya untuk Allah semata. Tetapi masalahnya sebagaimana yang saya sebutkan diatas tadi bahwa banyak umat islam yang mereka masih melakukan iabadah ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka terjebak dalam kebid’ahan seperti Peringatan Maulud Nabi yang sama sekali tidak ada perintah dan contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lebih parahnya lagi adalah sebagian dari mereka melakukan kesyirikan yaitu memalingkan ibadah mereka kepada selain Allah seperti mereka yang mendatangi kuburan-kuburan orang shalih kemudian mereka beribadah diatas kuburan tersebut.

 
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: