Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Tulisan ini diambil dari kitab SYARAH AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH karya Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawas hafizhahullah, pada point kelimapuluh enam. Bagi anda yang ingin membaca point kelima puluh lima silahkan klik Tabaruk (Mencari Berkah).

Hukum Sihir dan Tukang Sihir[1]

Ahlus Sunnah wal jama’ah berpendapat bahwa sihir memiliki hakikat dan meyakini bahwa hal ini benar-benar ada, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dalil dalil Al Qur’an :

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 102)

Menurut bahasa (etimologi), sihir berarti sesuatu yang halus dan tersembunyi.

Sedangkan menurut syar’i (tertimologi) sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi rahimahulullah (wafat th. 602 H), ia berkata: “Sihir adalah jimat-jimat jampi-jampi mantera-mantera dan buhul-buhul (yang ditiup) yang dapat berpengaruh pada hati, akal dan badan. Maka sihir dapat menyakiti, membunuh dan memisahkan suami dengan istrinya, membuat orang saling membenci, atau membuat dua orang saling mencintai. [2]

Allah subhanahu wata’ala berfirman :


وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

“Aku berlindung dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS Al-Falaq: 4)

 

Sihir adalah tipudaya syaithan melalui walinya (tukang sihir, dukun, paranormal, orang pintar, dan lain-lain). Sihir mempunyai hakikat dan pengaruh, karena itu kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari pengaruh sihir. Sihir, guna-guna dan lainya tidak akan mengenai seseorang kecuali dengan izin Allah subhanahu wata’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah.” ( QS Al Baqarah: 102)

 

Pada hakekatnya sihir dan tipu daya syaithan sangat lemah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Karena Sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’: 76)

Jumhur ulama menetapkan bahwa tukang sihir harus dibunuh. Seperti halnya pendapat madzhab imam abu hanifah, imam malik dan imam ahmad dalam riwayat yang dinukil dari mereka. demikianlah (hukum) yang terwarisi dari para sahabat, seperti ‘Umar bin Abu Khaththab dan anaknya radiyallahu ‘anhuma, ‘Ustsman radiyallahu ‘anhu, dan lain-lain. Namun kemudian mereka berselilsih pendapat: Apakah tukang (sihir itu) diperintahkan untuk bertaubat terlebih dahulu atau tidak? Apakah orang itu menjadi kafir dengan sihirnya itu? Atau ia dibunuh karena kerjanya menimbulkan kerusakan di muka bumi?

Ada sebagian ulama mengatakan: “kalau dengan sihirnya ia membunuh orang, maka ia pun dibunuh; kalau tidak cukup ia dihukum, namun tidak sampai mati.” Itu seandainya dalam perkataan maupun amallanya tidak terdapat kekufuran (yang nyata). Demikian pendapat yang dinukil daro Imam asy-Syafi’I rahimahulullah dan salah satu pendapat dalam madzhab Imam Ahmad rahimahulullah.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tukang sihir kafir dan belajar sihir hukumnya haram. Para sahabat Imam Ahmad menyatakan kafir bagi orang yang belajar dan mengajarkanya. [3]

Sihir adalah dosa besar yang membinasakan seseorang di dunia dan akhirat. Tukang sihir tidak akan bahagia dimana saja ia beraada dan tidak akan tenang hidupnya selama-lamanya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. (QS Thaahaa: 69)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قُلْنَا: وَمَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّباَ ، وَأَكْلُ مَالَ الْيَتِيْمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan.” para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara itu? Beliau berkata:’ Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang dibenarkan oleh agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot (desersi) dalam peperangan, dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa sedangkan ia tidak tahu menahu tentangnya. [4]

hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal lehernya (dibunuh). Sebagaimana telah dilakukan oleh sahabat “umar bin ala khaththab, jundud al khair, dan hafshah binti ‘Umar Radiyallahu ‘anhum. [5]

Namun yang melaksanakan hukum tersebut adalah ulil amri pemerinyth islam setelah melalui proses pengadilan.

 

——————————————-

Footnote

1. Lihat Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid bab 23 tentang Sihir (hal. 315-323), bab 24 tentang Macam-Macam Sihir (hal. 325-332) Manhajul fit Tashaddi lis Saharatil

Asyaar oleh Syaikh Wahid ‘Abdus Salam Baali, Fat-hul Haqqil Mubiin fii ‘Ilaajish Shar wa sihri wal ‘Ain

2. Al-Mughni (XII/13) oleh Abu Muhammad al-Maqdisi, cet. I, Darul Hadits Kairo, th 1425 H. Kitab ini dicetak berikut asy-Syahrul Kabiir.

3. Lihat al-Mughni (XII/132-134) oleh Abu Muhammad al-Maqdisi dan Mukhtashar Ma’aarijil Qobuul (hal. 145-146)

4. HR Al Bukhari (no. 2766, 5764, 6857) dan Muslim (no. 89), dari Sahabat Abu Hurairah Radiyallahu’anhu.

5. Lihat al-Mughni (XII/134-135), Majmuu’ Fatawaa (XXIX/384) o;oh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Mukhtashar Qobuul (hal. 146-148).

Untuk membaca point selanjutnya silahkan klik Dukun, Tukang Ramal dan Orang Pintar.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: